Feeds:
Posts
Comments

Ketep Pass, yang terletak di wilayah Magelang, Jawa Tengah dan berada di ketinggian 1200 meter dpl (di atas permukaan laut) adalah salah satu tujuan wisata  yang terkenal di Magelang karena keindahan alamnya. Dari sini kita bisa menikmati kemegahan gunung Merapi, gunung Sindoro, dan gunung Sumbing, maupun hamparan hijau hutan dan lahan pertanian

Ketep Pass, located in Magelang, Central Java and is in the height of 1200 meters asl (above sea level) is one of the best tourist destinations in Magelang, because of its natural beauty. From here we can enjoy the splendor of Mount Merapi, Mount Sindoro, and Mount Sumbing, and the green expanse of forest and farmland.  

Gardu Pandang (View Post)

Terdiri dari dua buah gazebo masing-masing dengan ukuran empat persegi panjang dan bangunan segi delapan dengan panjang panjang sisi lima meter. Tempat yang sangat nyaman untuk melihat keindahan alam Gunung Merapi dan Gunung Merbabu sambil menikmati makanan dan minuman yang disediakan oleh pedagang disekitar Obyek. Disekitarnya juga banyak penjual jasa penyewaan teropong yang dijajakan anak-anak usia belasan tahun maupun pria paruh baya. Biasanya mereka menawarkan teropong dengan harga Rp1.000,-/15 menit, agar wisatawan dapat lebih puas memandangi keindahan yang ada disekitar Ketep. Bila cuaca sedang cerah, puncak Gunung Merapi dapat terlihat dengan jelas. Saat kami datang sekitar pukul 09.00 cuaca mendung dan berkabut tebal, sehingga tidak terlihat apa-apa, hanya dari kejauhan masih tertempel abu vulkanik di atap rumah-rumah penduduk.

Consisting of two gazebo each with the size of rectangular and octagonal building with a long side length of five meters. The place is very convenient to see the natural beauty of Mount Merapi and Mount Merbabu while enjoying food and drinks provided by traders around the object. Around there ara also many sellers who rent binoculars, some of them are children, teens, and middle-aged men. Usually they offer a pair of binoculars at 1,000, -/15 minutes, so that tourists can more satisfied looking at the beauty that is all around Ketep. When the weather is sunny, the summit of Mount Merapi can be seen clearly. When we arrived around 09:00 the weather was overcast and foggy thick, so it is not seen nothing, only from a distance of volcanic ash is still stuck on the roof of people’s homes.

Ketep Volcano Centre (Ketep Volcano Centre)

Sebuah gedung yang disebut museum dangan luas kurang lebih 550 meter persegi ini adalah sebuah museum vulcanologi yang didalamnya berdiri miniatur Gunung Merapi, Komputer interaktif yang berisi tentang dokumen kegunungapian, beberapa contoh batu-batuan bukti letusan dari tahun ke tahun, poster Puncak Garuda yang berukuran 3x3m dan poster peringatan dini lahar Gunung Merapi

A building called the museum’s broad view of approximately 550 meter square is a museum inside vulcanologi which stood miniature of Mount Merapi, an interactive computer containing about mount documents, several examples of evidence eruption rocks from year to year, Puncak Garuda poster-sized 3x3m and warning poster of Mount Merapi lava

Di Volcano Theatre, kita bisa melihat pemutaran film ilmiah berbagai kegiatan Gunung Merapi dan gunung berapi lainnya, mulai dari jalur-jalur pendakian, penelitian di Puncak Garuda serta letusan dahsyat Gunung Merapi sampai episode pengungsian penduduk. Sayangnya untuk dapat melihat film dokumenter ini harus terkumpul minimal 15 orang, baru film dapat diputar dengan kapasitas tempat duduk 78 kursi.

On Volcano Theatre, we can see the screening of scientific activities of Mount Merapi and other volcanoes, ranging from hiking paths, research in the Peak Garuda and the massive eruption of Mount Merapi until episode refugee population. Unfortunately to be able to see this documentary should be collected at least 15 people, then movies can be played with a seating capacity of 78 seats.

Pelataran Panca Arga (Court Panca Arga)

Panca Arga mempunyai arti Lima Gunung, pada lokasi ini merupakan puncak tertinggi di Obyek Wisata Ketep Pass. Dari puncak tertinggi ini, dengan teropong yang ada, pengunjung dapat melihat Lima Gunung yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Slamet. Selain kelima Gunung tersebut pengunjung masih dapat melihat dan menikmati Gunung-Gunung kecil dan bukit-bukit yang sangat indah antara lain Gunung Tidar, Gunung Andong, Gunung Pring, Bukit Menoreh, Bukit Telo Moyo dll.

Panca Arga has the meaning of Five Mountains, at this location is the highest peak in Tourism Ketep Pass. From this peak, with existing binoculars, visitors can see five mountain that is Mount Merapi, Mount Merbabu, Mount Sindoro, Mount Sumbing and Mount Slamet. In addition to these five mountain visitors still can see and enjoy the small-Mount Mountain and the hills are very beautiful, among others, Mount Tidar, Mount Andong, Mount Pring, Menoreh Hill, Hill Telo Moyo etc. 


Restoran Ketep Pass (Ketep Pass Restaurant)

Disini pengunjung dapat menikmati menu yang disajikan di Restaurant Ketep Pass sesuai selera. Bangunan di atas Ketep Vulcano Theatre yang berdinding kaca ini,sangat cocok untuk pengunjung sambil menyantap hidangan yang tersedia juga menikmati indahnya panorama di kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Here visitors can enjoy a menu that is served at Restaurant Ketep according selera. Pass buildings on Vulcano Ketep Theatre this glass-walled, ideal for visitors to eat dishes that are available while also enjoying the beautiful panorama at the foot of Mount Merapi and Mount Merbabu. 

Luas area obyek wisata Kepet Pass ini sekitar 8000 meter persegi, berjarak 17 km dari Blabak Magelang kearah timur, 30 km dari Kota Magelang dan 35 km dari Boyolalai. Dari kota Salatiga yang berjarak sekitar 32 km, dapat melalui Kopeng dan Desa Kaponan dan 30 km dari Candi Borobudur. Lokasi Obyek mudah dijangkau baik dengan Bus Besar,Mini bus,Sedan atau sejenisnya maupun sepeda motor.

 The Kepet Pass area is about 8000 square meters, located 17 km from Magelang Blabak towards the east, 30 km from the city of Magelang and 35 km from Boyolali. From the town of Salatiga, a distance of about 32 km, can trough Kopeng and Kaponan Village and 30 km from Borobudur Temple. Object location easily accessible either by the Big Bus, Mini Bus, Sedan, or the like as well as motorcycles.

Tiket masuk kawasan ini Rp3.000,-/orang ditambah ongkos parkir Rp2.000,-.

Entrance to this area is Rp3.000 each person and for parking fees is Rp2.000, -.

Salam, LonelyIndonesia

Greeting, LonelyIndonesia

 

Di sepanjang  Jalan Pemuda, tepatnya dari Mall Sri Ratu hingga jembatan penyeberangan di depan Hotel Dibya Puri pada malam hari (sekitar pukul 22.00 keatas) kita dapat menjumpai puluhan tukang pijat urut lesehan di emperan-emperan toko sepanjang Jalan Pemuda.

Along Pemuda Street, from Sri Ratu Mall until the pedestrian bridge in front of the Dibya Puri Hotel at night (around 22:00 or more) we can find dozens of massage masseur on side street in front of shops along Pemuda Street

Jasa pijat yang ditawarkan tergolong unik, selain hanya disediakan tikar atau plastik dan sebuah bantal untuk digunakan sebagai alas pijat, disini kita juga diminta menanggalkan pakaian walaupun kita berada disisi jalan raya yang sangat terbuka, tentu saja karena selain pijat, mereka juga melumuri kita dengan minyak pijat dan terkadang mereka juga mengerok punggung agar kita terbebas dari masuk angin dan kelelahan.

This Massage service is unique, they just provide mats or plastic and a pillow for use as a base massage, here they also asked to take off our clothes even though we are beside the highway which is very wide open, of course, because in addition to massage, they are smearing us with oil massage and sometimes they also curry back to us free of colds and fatigue.

Walaupun menanggalkan pakaian, tapi pasien diberikan selembar kain sarung untuk menutupi sebagian badannya saat akan dipijat. Wow… sensasi dipijat di alam terbuka dipinggir jalan raya besar, pasti membuat kita agak rikuh dan dag… dig… dug… tapi itulah yang menjadi ciri khas dari pijay urut lesehan ini.

Even we getting undressed, but the patient is given a piece of cloth glove to cover part of his body during the massage. Wow … the sensation of a massage in the open alongside a major highway, would make us somewhat uncomfortable and have a hearth beat but that is the hallmark of this sideroad massage.

 

Para penyedia jasa pijat yang terkumpul setiap malam di Jalan Pemuda ini lebih dari 25 orang. Dengan tarif harga 20.ooo – 30.000 rupiah, kita bisa merasakan sensasi pijat ini.

This massage service providers who gathered every night at Jalan Pemuda, more than 25 people. With the rates 20.000 – 30.000 rupiah (2-3 USD), we could feel the sensation of this massage.

Sesungguhnya, keberadaan tukang pijat lesehan di Jalan Pemuda belumlah lama, yakni pada 2004. Mula-mula dipelopori oleh empat pemijat: Darsono, Rusdi, Sunardi Penyak, dan Achmad Mukhlis.

Indeed, the existence of this sideroad message at Jalan Pemuda is just a few year ago, that was in 2004. At first pioneered by four massagers: Darsono, Rusdi, Sunardi Penyak, and Achmad Mukhlis.

Sebelumnya, Darsono membuka praktik pijat di Jembatan Berok, dan Rusdi tukang becak yang nyambi memijat di Jalan Pemuda. Sedangkan Sunardi dan Mukhlis sejatinya tukang jual obat. Model : Didik

Previously, Darsono opened a massage practice in Bridge Berok, and Rusdi is a pedicab driver who have a side job to massage in Pemuda Street. Sunardi and Mukhlis is a saller of some medicine on the sideroad. Model : Didik
 
 Salam, LonelyIndonesia
Greetings, LonelyIndonesia

Kalau di Semarang ada Lokalisasi Sunan Kuning, di Kendal ada Lokalisasi Gambilangu, di Jogja ada Lokalisasi Pasar Kembang, maka di Surabaya ada Lokalisasi Dolly, Dolli, Doli atau kadang oleh masyarakat setempat disebut Loklisasi Jarak.

In Semarang there are Localization named Sunan Kuning, in Kendal there are Gambilangu Localization, in Yogyakarta there are Localization Pasar Kembang, then there Localization Dolly, Dolli, Doli in Surabaya or sometimes  called Loklisasi Distance by local people.

Sama seperti tempat-tempat lokalisasi pada umumnya, ternyata bisnis “lendir” ini sudah menjadi mata rantai yang saling mengait, saling mengait, dan saling membutuhkan. Tidak hanya melibatkan pekerja seks komersial (PSK) dan mucikari, namun oknum aparat pemerintah mulai dari RT/RW, kelurahan hingga kecamatan pun menikmati hasil bisnis ini.

Like an ussual localization , this liquid business has become a mutual chain hook, hook each other and need each other. Not only involve commercial sex workers (PSKs) and pimps, but unscrupulous government officials ranging from RT / RW, any district to district enjoy the outcome of this business.

Bagi cewek-cewek PSK (Pekerja Seks Komersial) bisnis ini mampu membuat mereka meraup puluhan juta rupiah; begitu juga dengan mucikari. Bahkan mucikari yang merangkap berjualan bisa meraup keuntungan berlipat. Dalam sehari (jika kondisi ramai)  setiap wisma bisa menghabiskan tiga krat bir.

For the girls PSKs (commercial sex workers) are able to make their businesses reap tens of millions of dollars, as well as the pimps. Even the pimps who are also selling can reap multiple benefits. Within a day (if crowded conditions) every homestead could spend three crates of beer.

Adapun aparat pemerintah bisa meraup uang dari sejumlah prosedur yang harus dipenuhi para mucikari. Di awal mendirikan wisma, misalnya, para mucikari harus membayar tarikan izin usaha per wisma. Uang ini dibayarkan kepada RT/RW setempat. Izin saja tidak cukup untuk melanggengkan bisnis ini. Setiap tahun para mucikari harus membayar lagi uang untuk pemutihan usaha, dan terutama apabila dialihkan ke orang lain/ ganti pemilik, belum termasuk tarikan-tarikan kecil seperti membayar semacam pengumuman berisi kesepakatan bersama antar-RW yang tertulis dalam kertas laminating. Juga, plakat-plakat yang ditempel di dinding seperti plakat bertulis ‘TNI dilarang masuk tempat ini’.

As government officials get money from a number of procedures that must be met by pimps. At the beginning of establishing the homestead, for example, the pimps have to pay the pull of a business license per homestead. This money is paid to the neighborhood local. Permission is not enough to sustain this business. Each year the pimps have to pay more money for legaly operations, and especially when change the owner, not including the bribe small paying like announcement contains the collective agreement between the-RW is written in the paper laminating. Also, placards taped to the wall as a plaque inscribed ‘TNI (Indonesian National Army) banned from this place’.

Setiap melewati pukul 23.00 WIB atau ketika alarm sudah dibunyikan, aktivitas wisma harus usai, termasuk karaoke. Bagi yang nekat meneruskan, harus siap-siap merogoh koceknya untuk uang kontrol kepada petugas keamanan. Sekali kedapatan menerima tamu di atas jam itu, harus membayar sejumlah uang sebagai uang kemananan. Itu pun dibayar setelah ada pengecekan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Each pass at 23:00 pm or when the alarm is sounded, the activity of the homestead must be completed, including karaoke. For those who dare to continue, must get ready to spend more money to security personnel. Once found to receive guests at the top of the hour, must pay more much money as security money. That was paid after the checking of identity cards (KTP).

Dolly, ditutup apa dipindah? Dolly, it will close or removed?

Bisnis ‘lendir kenikmatan’ di kawasan Jarak ini sekarang sedang menjadi perbincangan di mana-mana. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba berhembus kabar bahwa Jarak dan Dolly akan dipindah ke Keputih. Bicara Dolly (dan Jarak), berarti bicara masalah kelangsungan hidup ribuan PSK, pedagang kondom, pedagang obat kuat, pedagang rokok, tukang parkir, penjual makanan keliling, pemilik stand, persewaan toilet, penjual pulsa, pemilik rumah kost, makelar PSK, petugas keamanan, dan lain sebagainya yang menggantungkan hidup dari dolly. Kalau dolly ditutup, apa mereka akan tinggal diam? Akankah ribuan orang itu menjadi pengangguran? Atau jalan-jalan di Surabaya akan menjadi seperti Pangsud dan Diponegoro semua, menjadi tempat mangkal PSK?

Setali tiga uang. Memindah dolly ke lokasi lain (misalnya Keputih), bukanlah solusi yang tepat. Pasti akan terjadi penolakan oleh warga sekitar ‘dolly baru’ itu. Dan berarti pula pemkot telah terang-terangan melegalkan zina. Yang lebih berbahaya jika ternyata setelah dipindah akan ada 2 dolly, yaitu ‘dolly lama’ dan ‘dolly baru’.

Salam, LonelyIndonesia

Greetings, LonelyIndonesia


Ketika nama Sunan Kuning disebut, orang segera berasosiasi dengan kompleks lokalisasi di kawasan Kalibanteng, Semarang. Siapa Sunan Kuning sebetulnya? Apakah ada hubungannya dengan kompleks lokalisasi tersebut?
 
When Sunan Kuning name is mentioned, people immediately associate with the complex localization in the region Kalibanteng, Semarang. Who Sunan Kuning really? Is there any relation with the prostitution complex?
 

Photo by : Suara Merdeka Cybernews

Di Kalibanteng Kulon ternyata memang ada makam yang dipercaya sebagai makam Sunan Kuning, namun situs itu sama sekali tak berhubungan dengan keberadaan lokalisasi.

In Kalibanteng Kulon it was also the grave that is believed to be the grave of Sunan Kuning, but the site was not at all related to the presence of localization.

Sunan Kuning sendiri sebetulnya adalah seseorang yang bernama Mas Garendi, pemimpin pemberontakan orang-orang Cina terhadap Kartasura pada 30 Juni 1742.

Sunan Kuning it self actually is someone who named Mas Garendi, leader of the Chinese uprising against Kartasura on June 30, 1742.

 Makam Sunan Kuning ditemukan oleh Mbah Saribin seseorang yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Saat itu dia kehilangan lima ekor kerbau piaraannya. Tujuh hari tujuh malam ia mencari, menyisir desa-desa, keluar masuk hutan belantara. Tapi hewan-hewan itu tak ditemukan juga.

Grave of Sunan Kuning found by Mbah Saribin someone who has a high spiritual abilities. At that time he lost five buffaloes pet. Seven days and seven nights he searched, combing the villages, and out of the jungle. But the animals were not found.

Sebagai guru spiritual yang dikenal sakti, Mbah Saribin merasa malu dan terpukul lantaran tak mampu menemukan kerbau-kerbaunya. Dalam keputusasaan, ia nekat menyepi di Gunung Pekayangan yang dikenal wingit dan tak pernah dijamah manusia. Demikian wingit hingga dilekati sesorah jalma mara jalma mati (siapa yang datang akan mati).’Akan tetapi Mbah Saribin berpikiran, lebih baik mati dari pada menanggung malu kepada masyarakat, terutama para muridnya.

As a spiritual teacher known as magic, Mbah Saribin feel embarrassed and upset because not able to find that buffaloes. In desperate, he determined to retreat on Mount Pekayangan known creepy and untouched by humans. So creepy that it said who came will die. But Mbah Saribin think, it’s better to die than to bear the shame to the community, especially his students.

Saat bersemedi, Mbah Saribin merasa didatangi seseorang yang datang menunggang kereta kencana. Kepadanya ia memberi tahu keberadaan kerbau-kerbaunya yang hilang. Benar saja, hewan-hewan piaraan itu terikat di bawah pohon kecacil, tak jauh dari pertapaannya.

When meditating, Mbah Saribin feel visited by someone who came riding a golden carriage. Tell him he-buffalo buffalo being lost. Sure enough, it’s pets kecacil tied under the tree, not far from the hermitage.

Mbah Saribin amat gembira, dan bisa pulang dengan mendongakkan kepala. Keesokan harinya, ia mengajak keluarga dan murid-muridnya membersihkan Gunung Pekayangan.

Mbah Saribin were very excited, and can go home with a pride. The next day, he invited his family and his students clean up Mount Pekayangan.

Saat semak-semak dibabat, tampaklah enam punthukan batu, menyerupai nisan. Mbah Saribin kembali bersemedi untuk mencari tahu, siapa yang bermakam di tempat itu. Sosok penunggang kereta kencana kembali muncul dan memperkenalkan diri sebagai Kanjeng Sunan Kuning. Bersamanya Kanjeng Sunan Kali, Sunan Ambarawa, serta para abdi: Mbah Kiai Sekabat, Kiai Jimat, dan Kiai Majapahit. Sejak itu, Gunung Pekayangan dikenal sebagai tempat ngalap berkah.

When the bushes cleared, he saw six  stone, like gravestones. Mbah Saribin re-meditated to find out, who graved in that place. Than it came a rider with a golden figure re-emerged and introduced him self as Kanjeng Sunan Kuning. With him Kanjeng Sunan Kali, Sunan Ambarawa, and the servant: Mbah Sekabat kiai, Kiai amulets, and Kiai Majapahit. Since then, Mount Pekayangan known as a place of blessing. 

 
Siek Sing Kang (Siek Sing Kang)

Suatu ketika, seorang warga keturunan asal Klaten bernama Ny Siek Sing Kang datang ke kompleks makam Sunan Kuning. Dia meminta tolong untuk menemukan emas berliannya yang hilang di kereta api. Tiga hari menyepi, dia mendapat wisik, harta yang ia cari telah berada di kantor polisi.

One time, an ethnic woman called Mrs. Siek Sing Kang from Klaten came to the grave complex of Sunan Kuning. He asks for ahelp to find the lost gold diamonds on the train. Three days she pray, he got a whisper, that the treasure she looking for has been in the police station.

Sebagai ungkapan syukur, Siek Sing Kang membangun nisan serta cungkup permanen di kompleks makam Sunan Kuning. Dia mengkonstruksi kompleks itu dengan gaya akulturasi Cina-Jawa. Sebuah gapura berlanggam Cina terdapat di pintu masuk. Pohon-pohon tua seperti kecacil dan jangkang yang tumbuh merimbun membuat kompleks makam Sunan Kuning menjadi teduh.

As an expression of gratitude, Siek Sing Kang build a permanent headstone and the cupola of the grave complex of Sunan Kuning. She is constructing the complex with a Chinese-Javanese style of acculturation. A Chinese gate located at the entrance. Ancient trees like ‘kecacil tree’ and growing ‘jangkang tree’  make grave complex of Sunan Kuning more shady.

Pengunjung makam berasal dari berbagai kota di Jawa Tengah, Jawa Timur. Mereka datang dengan aneka maksud dan tujuan, mulai dari mencari jodoh, penglaris, kemuliaan hidup, dan kesembuhan. Makam Sunan Kuning ramai pada bulan Besar atau malam Jumat Kliwon di Bulan Sura.

The grave visitors come from various cities in Central Java, East Java. They come with a variety of purposes, ranging from finding a mate, magic wand, the glory of life, and healing. Tomb of Sunan Kuning crowded in the Great or Friday night at the Moon Kliwon Sura.

Paruh kedua tahun 1970-an, muncul kompleks lokalisasi di Kalibanteng. Karena letaknya di Jalan Sri Kuncoro, orang sering menyebut lokalisasi itu dengan singkatan SK.

Second half of the 1970s, appears complex localization in Kalibanteng. As it is located at Jalan Sri Kuncoro, people often refer to it by the acronym SK localization.

Nah, disinilah kerancuan itu terjadi. Mereka yang tidak tahu mengira SK kependekan dari Sunan Kuning, yang lokasi makamnya tak jauh dari tempat itu. Celakanya, identifikasi itu dari waktu ke waktu kian terlembagakan

Well, this is where the confusion occurred. Those who do not know think SK stands for Sunan Kuning, the location of his grave not far from that place. Unfortunately, identifying it from time to time becoming institutionalized

Salam LonelyIndonesia,

Greeting, Lonely Indonesia

Kembali mojang Bandung membuat heboh, kali ini lewat video yang di upload ke youtube. Mereka adalah Sinta dan Jojo, siapa mereka? mereka adalah gadis yang berparas imut, manis, centil dan gemesin banget. Huaahh…

Again, the girls from Bandung make a phenomena, this time through the video uploaded to youtube. They are Sinta and Jojo, who are they? they are girls who are cute, sweet, coquettish and very attracted. Huaahh …


Ingin tahu lebih jauh siapa sebenarnya mereka? Menurut kabar yang ada, Sinta adalah seorang mahasiswi yang kuliah di Bandung, ingin membuat video amatir video klip membalas video yang dibuat kekasihnya di Prancis. Sinta mengajak dua sahabatnya, Jojo dan Uci berembuk. Uci mengusulkan membuat video “Keong Racun”. Shinta & Jojo kemudian mencari lirik dan videonya di Internet. Setelah semua siap, mereka berdua merekam lalu bersiap meng-upload ke Facebook.

Want to know more who are they really are? According to existing news, Sinta is a college student in Bandung, wanted to make video clips video amateur that can avenge video that made by his girlfriend in France. Sinta invite two friends, Jojo and Uci discussed. Uci proposes to make a video “Poison conch.” Sinta & Jojo then look for the lyrics and video on the Internet. After all was ready, they were both recording and getting ready to upload to Facebook.

Namun, mengunggah ke Facebook ternyata lambat. Akhirnya, Sinta berinisiatif mengunggah ke YouTube lalu di-embed ke Facebook. Video klip Keong Racun bikinan Sinta Jojo kemudian jadi fenomena di YouTube dan hari ini (28/7/10) nama Keong Racun pun mendadak masuk dalam Trending Topics di situs jejaring sosial Twitter, dengan jumlah pengunduh lebih dari 70.ooo orang.

However, apparently slow to upload to Facebook. Finally, Sinta initiative then upload to YouTube to embed to Facebook. Video clips homemade Conch Poisons Sinta Jojo later became a phenomenon on YouTube and today (28/7/10) the name of any sudden Poisons Conch Trending Topics included in the social networking site Twitter, with the number of downloads more than 70.ooo people.

Bahkan sebuah komunitas bernama Keong Racun Community dibuat di jejaring perkawanan facebook. Memang, selain ”Keong Racun”, ada beberapa singgel hit lain yang mereka lipsinc  kemudian diunggah sendiri di youtube. Di antaranya ”Slowdown Baby”, ”Telephone”, ”Bete”, dan ”Bukan Cinta Biasa”. Tapi entah mengapa, ”Keong Racun” yang menjadi topic trending.

Even a community named Conch Poisons Community made in networking perkawanan facebook. Indeed, apart from “Conch Poison”, there are a few other hits singgel lipsinc their own and then uploaded it on youtube. Among others “Slowdown Baby,” “Telephone”, “Bete”, and “No Ordinary Love.” But somehow, “Conch Poison” is a topic Trending.


Iseng Belaka Apa yang istimewa dari aksi playback Sinta dan Jojo dalam melagukan ”Keong Racun”? Sebagian orang menilai karena kelucuan, kepolosan serta kecantikan dua gadis Bandung itu. Tapi sebagian lain ada juga yang menilai karena kenorakan, kekampungan bahkan keusilannya. Yah pokoknya biar bagaimanapun, Go Sinta… Go Jojo… Kutunggu karya kalian berikutnya :-[)

What is so special sheer fun of the action Sinta and Jojo in playback singing “Conch Poison”? Some people judge for cuteness, innocence and beauty of Bandung’s two girls. But there are also others who assess because foolisness, plebeian even because a naughtiness. Well anyway, however, …Go Sinta … Go Jojo … I’ll see you next good work : – [)

Senyum… LonelyIndoesia

Cheers… LonelyIndonesia

Di salah satu pusat kota yang menjadi icon dari Kota Semarang adalah Tugu Muda Semarang. Tugu berbentuk lilin ini mengandung makna semangat juang para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan RI tidak akan pernah padam. Para pejuang dari Semarang (waktu itu) pantang menyerah, penjajahan Jepang dilawan sampai titik darah penghabisan, dan kepahlawanan masyarakat setempat ketika melawan penjajah dikenal sebagai pertempuran lima hari dari tanggal 14-18 Oktober 1945.

In one of the city center that became icons of the city of Semarang is the Tugu Muda Semarang. This candle-shaped monument containing the meaning of the warriors fighting spirit to defend the independence of Indonesia will never be extinguished. The fighters from Semarang (then) never give up, resisted the Japanese occupation to the death, and heroism of local communities when fighting the invaders known as the battle of five days from December 14 to 18 October 1945.

Tugu Muda Semarang yang dibangun pada masa Gubernur Jawa Tengah Budiyono dan diresmikan oleh Presiden RI pertama Soekarno pada 20 Mei 1953 dimaksudkan untuk mengenang heroisme pejuang Semarang melawan penjajah Jepang.

Tugu Muda Semarang was built during Budiyono Central Java governor and was inaugurated by the first President Soekarno on May 20, 1953 is intended to commemorate the heroism of Semarang fighters against the Japanese invaders.

Pada siang hari, tugu peringatan yang berhadapan langsung dengan Lawang Sewu dan Museum Mandala Bhakti ini dihiasi oleh beberapa pancuran air yang menyejukkan di hari yang terik dan panas, sedangkan pada malam hari, setelah pancuran air dimatikan, lampu-lampu di sekitar tugu dinyalakan dan banyak sekali wisatawan, terutama muda-mudi memanfaatkan suasana tugu ini untuk sekedar duduk-duduk atau berbincang-bincang, bahkan berfoto-foto ria.

On the afternoon, this memorial tht directly with Lawang Sewu and Mandala Bhakti Museum is decorated by some of the soothing water fountain on a sweltering hot day, whereas at night, after the shower is turned off, the lights around the monument lit and lots of tourists, especially young people take advantage of this monument to the atmosphere just to sit or talk, and even took a picture-photo ria.

Tugu ini berjarak 5 km dari Bandara Ahmad Yani Semarang, atau sekitar 10 menit berkendara. Tempatnya sangat indah, terutama jika malam tiba diatas jam 21.00 malam. Oh iya, tidak ada biaya masuk untuk mengunjunginya.

The monument is located 5 km from Ahmad Yani Airport in Semarang, or approximately 10 minutes drive. It’s very beautiful, especially when the night came on the hour 21 o’clock at night. Oh yes, there is no entrance fee to visit.

Salam LonelyIndonesia

Greetings LonelyIndonesia

Di pesisir selatan Yogyakarta, terdapat beberapa titik yang memiliki pesona wisata, ternyata Pantai Parangtritis yang selalu menempati peringkat teratas dalam kunjungan para wisatawan.

On the south coast of Yogyakarta, there are several points which can attract tourist to visit it. But Parangtritis Beach always be a top ranked  of tourist visits.

Dengan biaya masuk 3 ribu rupiah per orang dan 2 ribu untuk mobil, kita sudah bisa menikmati indahnya pantai yang landai, dengan bukit berbatu, pesisir dan berpasir putih serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai yang mempesona, suhu dan terik matahari yang panas menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan mancanegara.

With an entrance fee of three thousand rupiah per person and two thousand for the car entrance, we are able to enjoy the beauty of the sloping beach, with rocky hills, coastal scenery and white sand and limestone hills on the stunning north coast, the temperature and the heat of the sun is an attract for foreign tourists.

Walaupun terpampang tulisan dilarang berenang dikarenakan ombak yang cukup tinggi, akan tetapi banyak pengunjung memanfaatkan pesisir pantai sekedar untuk mencelupkan sebagian badannya ke dalam air laut, atau sekedar bermain pasir, menggambar di pasir, ataupun mengubur tubuh di dalam pasir.

Although there are a warning not to swim in the beach because the waves are highmany visitors take advantage of the coast just to dip into his body partly in the sea water, or just playing on the sand, drawing on the sand, or bury their body in the sand.

Kita juga dapat berkeliling pantai menggunakan bendi dan kuda yang disewakan dan dikemudikan oleh penduduk setempat dengan biaya sekitar Rp25ribu untuk satu kali putarannya.

We can also use a go around the beach and rent a horse and driven by local residents at a cost of about Rp25ribu (USD $2) for single turns.


 

Banyak pengunjung yang datang untuk bermeditasi. Pantai ini merupakan salah satu tempat untuk melakukan upacara Labuhan dari Kraton Yogyakarta. Selain terkenal sebagai tempat rekreasi, parangtritis juga merupakan tempat keramat.

As well as a place of recreation, Parangtritis Beach is also a sacred place. Many visitors who come to meditate. This beach is one of the place that we can do Labuhan ceremony of the Sultan’s Palace.

Pada musim kemarau, angin bertiup kencang seperti tak mau kalah dengan deburan ombak yang rata-rata setinggi 2-3 meter. Sering terdengar kabar ada pengunjung pantai selatan hilang terseret gelombang. Anehnya, jenazah pengunjung yang nahas itu, menghilang bagaikan ditelan bumi. Tim SAR rata-rata baru bisa menemukan jenazahnya 2-3 hari kemudian setelah melakukan penyisiran. Biasanya, lokasi penemuan mayat tidak pada area di mana pengunjung tersebut tertelan ombak. Mayat ditemukan ratusan meter, bahkan kadang beberapa kilometer dari lokasi semula.

In the dry season, the wind seems never to be outdone by the sound of waves which averaged 2-3 meters tall. We hear often that there are guests were swept away by a wafes. Strangly, the bodies of visitors cannot be find in the place that they are dissapeare by the wafes. SAR (Search and Rescue) team found the body after only 2 or  3 days later after sweeping the location. Typically, the location of the discovery of the corpse was not in an area where visitors are swallowed waves. Corpse found hundreds of meters, sometimes even several kilometers from the original location.

 

Di kalangan masyarakat setempat, kejadian misterius semacam itu, semakin menguatkan mitos bahwa penguasa laut yang lazim disebut Nyi Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan), suka “melenyapkan” orang yang tidak mengindahkan kaidah alam atau menggunakan pakaian berwarna hijau. Dari sisi ilmiah, kejadian semacam itu makin menguatkan teori bahwa palung laut selatan Jawa memang sarat arus bawah yang terus bergerak. Benda apa saja yang terseret ombak dari bibir pantai, terseret ke bawah dan terdampar pada lokasi berbeda.

Among local communities, such mysterious events, reinforce the myth that marine authorities, commonly called Nyi Roro Kidul (Queen of the South Coast), eventauly “wipe out” people who did not heed the rules of nature or wearing a green shirt. From the scientific side, the more such incidents reinforce the theory that the trench is full of sea south of Java under the constantly moving currents. Any item that dragged the waves from the shore, dragged down and were stranded at different locations.

Kepercayaan masyarakat setempat tentang legenda Nyi Roro Kidul juga dengan sendirinya melahirkan pesona tersendiri. Hampir setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, para pengunjung maupun nelayan setempat melakukan upacara ritual di pantai tersebut. Acara ritual diwarnai pelarungan sesajen dan kembang warna-warni ke laut. Puncak acara ritual biasanya terjadi pada malam 1 Suro, dan dua-tiga hari setelah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Intinya, nelayan meminta keselamatan dan kemurahan rezeki dari penguasa bumi dan langit.

The believes  about the legend of Nyi Roro Kidul make their own passion. Almost every Kliwon Friday night and Kliwon Tuesday night (a date in java), visitors and local fishermen on the beach doing the ritual. Pelarungan is a that ritual offerings and colorful flowers into the sea. The main Ritual usually occurs at night one Suro (javanese calendar), and two-three days after Idul Fitri and Idul Adha (Islamic ceremony). In essence, fishermen asked for safety and sustenance from the generosity of the ruler of the earth and sky.

Apabila kita berjalan menyusuri pesisir pantai Parang Tritis ke arah barat, kita bisa menemukan TPI Depok (Tempat Pelelangan Ikan Depok) yang memang dikembangkan sebagai pusat wisata kuliner hasil laut di Pantai Parang Tritis, disana kita bisa membeli ikan hasil tangkapan nelayan lokal setempat, bahkan di lokasi ini kita bisa langsng memilih tempat makan pinggir pantai yang akan memasakkan hasil ikan yang sudah kita beli. Apabila kita berjalan ke arah Timur, kita bisa menemukan air terjun yang mengalir dari atas bukit karang di pinggir pantai langsung menuju batu-batuan karang di bawahnya dan pasir di bibir pantai. Karena letaknya berada di ujung timur pantai, air terjun ini sering terlewatkan oleh wisatawan yang mengunjungi Pantai Parang Tritis ini.

When we walked along the coast of Parang Tritis to the west, we could find Depok TPI (Fish Auction Place Depok) which was developed as a tourist center on the Beach seafood culinary in Parang Tritis Beach, there we can buy a fresh fish that catches by local fishermen, even in this location we can choose the immediate beachside dining that will cook the fish that we buy. When we walked towards the East, we can find a waterfall that flows from the top of the cliff on the beach directly to the coral rocks and sand beneath her on the beach. Because of its location was at the east end of the beach, this waterfall is often overlooked by tourists who visit the Parang Tritis Beach.

Pantai yang Berlokasi sekitar 27 Km dari kota Yogyakarta ini, 40 menit perjalanan dari Bandara Adisucipto, 40 menit dari Kawasan Wisata Malioboro Yogyakarta, dapat dicapai melalui desa Kretek atau rute yang lebih panjang, tetapi pemandangannya lebih indah yaitu melalui Imogiri dan desa Siluk. Model : Dian, Dina, Ibell

The beach is located about 27 km from the city of Yogyakarta, 40 minutes drive from Adisucipto Airport, 40 minutes from Malioboro Yogyakarta Tourism Region, can be achieved through Kretek Village that have a longer route, but if you want to see more beautiful scenery and villages, try through Imogiri siluk. Model : Dian, Dina, Ibell 

Salam LonelyIndonesia

Greeting LonelyIndonesia

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.